Visi

Visi dalam pelayanan bukan cuma sekedar sesuatu yang muncul karena kita bisa dengan kompeten melihat atau memperkirakan hal yang bakal terjadi di masa depan, tetapi yang paling dasar dan merupakan awal dari visi ini sendiri adalah panggilan dari Allah.

Comeback

Yay! a year without blogging. 

Bagaimana keadaan "mu" saat ini? mengalami "kemajuan" kah dibandingkan dengan setahun lalu? atau "mandet" bahkan "jatuh" dengan lebih buruk?

Okay, this is my first post, in this year.

To be continued...

Hangus

Allah itu baik? Ya, Ia sangat baik. Nah, kalo begitu, coba definisikan, seperti apa kebaikan-Nya kepadamu..
Mm.. Dia menyertaiku sepanjang hari, setiap hari dicukupkan baik secara fisik maupun perasaan, Dia ..., 
..., ...,  dan ... . Saya yakin, ketika diminta untuk mendefinisikan hal diatas, teman-teman bisa menjawab dengan lancar. (Jika belum, minta Allah kasih kepekaan untuk melihat setiap berkat dan kebaikan yang Ia berikan, kalau diminta dengan kesungguhan hati, pasti Dia kasih kok.. :D)
Namun jangan lupakan bahwa Allah memiliki sebuah sisi lagi, yaitu Allah bisa murka. Ibaratkan koin, sisi gambarnya itu adalah Allah yang baik, sedangkan sisi angkanya adalah Allah yang dapat murka. 

"Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." ~ Ibrani 12:29

Kira-kira seperti ayat yang dikutip diatas, cerminan dari murka Allah. Allah tidak segan-segan untuk menghukum domba-Nya yang mengabaikan Dia dan berpaling dari-Nya.
Api yang menghanguskan, gimana sih api yang menghanguskan? Coba kita bayangkan, kita menyulut api pada sebuah kertas, tentu saja, kertas itu akan hangus terbakar, kecuali kita sendiri yang memadamkannya.
Demikianlah, dengan murka Allah, jika kita terus-menerus bermain-main dengan dosa, jangan kaget bila suatu saat, Allah langsung menghanguskan, Allah meratakan dan memutarbalikkan semua hal yang dapat kita nikmati sekarang, tidak ada satupun orang yang dapat menghentikan api tersebut. Jagalah kekudusan dan jangan bermain-main dengan dosa.
Mari kita lihat salah seorang tokoh Alkitab, Esau. Dalam Ibrani 12:15,16 dikatakan bahwa:

    Heb 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 
    Heb 12:16 
    Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan.
    Heb 12:17 
    Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.
    Diatas tercermin kelalaian yang dilakukan oleh Esau, karena cabul dan nafsunya Ia menjual hak kesulungannya.(Lihat Kejadian 25:29-34) Dengan mudahnya, Esau menukar berkat yang begitu berharga yang telah Allah sediakan untuknya nanti dengan semangkok kacang merah. Ia memberikan hak kesulungannya kepada Yakub hanya karena semangkok kacang merah.(Rasa-rasanya itu mungkin semangkok kacang merah termahal hingga abad ini... Hahaha) Bahkan Esau berkata, "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" Dari kata-kata tersebut, dapat dilihat bahwa pada saat itu, Esau sama sekali tidak pikir panjang, ia hanya memikirkan untuk memenuhi nafsunya, ia hanya berpikir bahwa sup kacang merah tersebut dapat mengenyangkan. Matanya tertutup dengan kenikmatan sesaat melalui sup tersebut. Karena ditutupi oleh nafsu dan kenikmatan, ia memandang berkat yang Allah sediakan untuknya dikemudian hari, seperti sesuatu yang murah.
    Ada 3 hal, yang saat ini begitu mudah menundukkan manusia:
    1. Harta - Jelas ini merupakan hal yang begitu menarik, siapa sih, pada zaman ini yang bisa acuh dengan kekayaan? Hari ini dapat segini merasa cukup, tapi besoknya kata cukup itu berubah jadi kurang. Hari ini naik sepeda, besok maunya motor, lusa maunya mobil. Ingat! bahwa segalanya sudah cukup, Allah tidak mengajarkanmu untuk terus mengejar kekayaan, bahkan di Doa Bapa kami pun dikatakan "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, ..."
2. Tahta - Manusia tergila-gila dengan kedudukan, hari ini jadi staf, besok maunya jadi pimpinan, dan seterusnya. Apa sih yang dicari? toh bukannya pada waktu jadi staf, kita menikmati juga, ketika sebagai pimpinan pun menikmati. 

3. Wanita/Pria - Yang sudah menikah, terkadang merasa tidak cukup dengan satu istri/suami saja, masih saja mau memenuhi nafsu yang ada dengan mencari kenikmatan dari wanita/pria lain. Bagi yang pacaran, kurang bisa lagi menjaga batasan-batasan yang ada, mau buru-buru menikmati yang namanya seks, dsb. (Ingat, segala sesuatu Tuhan kasih waktunya, jadi ga perlu buru-buru! :p)

Yang dikejar itu adalah kekudusan, bukan ketiga hal diatas. Memang sesaat menyenangkan, tapi perlahan-lahan mereka akan membawa kita pada kematian kekal, bukan hanya fisik saja tapi rohani juga.
Allah sudah menyediakan satu kehidupan kekal untukmu dan saya, jangan menukarnya hanya dengan satu kepuasan atau kenikmatan sesaat. 
Jangan sampai kita baru sadar, ketika Allah sudah murka, dan ketika itu pun Ia berkata, sudah tidak ada waktu lagi bagimu dan saya untuk memperbaiki semuanya. Jangan sampai, apa yang terjadi pada Esau di Ibrani 12:17 terjadi terlebih dahulu. 
Bersyukur pada saat ini, Allah masih begitu baik, mengampuni segala dosa yang terus kita lakukan.
Jadi, kejarlah kekudusan, bencilah dosa, dan jaga "Hak Kesulungan" yang Allah berikan kepada kita, karena murka Allah sama sekali tidak main-main, Ia adalah api yang menghanguskan.

Bersaksi

Titik awal bersaksi bagi setiap pengikut Kristus adalah keselarasan iman dan perbuatan..
untuk mencapai keselarasan tersebut, mulailah dengan menjadikan Kristus sebagai yang terutama dalam aspek hidup anda..(1 Petrus 3:15)

Ya, jadikanlah Dia terlebih dahulu sebagai Tuhan didalam hidupmu, dan tanpa disadari kesempatan-kesempatan besar untuk memberitakan-Nya akan muncul dengan sendirinya, baik melalui orang-orang yang memang tulus mau bertanya, ataupun yang bersifat menguji. 

Pemantik


Aku telah berjalan jauh dalam remang.
Sebenarnya aku punya pelita sih, tapi aku tidak punya pemantik untuk menyalakannya.
Sudah terlampau jauh aku berjalan, bila aku ingin kembali untuk membeli sebuah pemantik yang bagus.
Di jalan, aku melihat begitu banyak orang menawarkan pemantik, dengan berupa-rupa bentuk, warna dan sebagainya.
Tapi,  cahaya yang dihasilkan oleh pemantik itu hanya sebentar saja.

Ditengah kelelahanku dalam perjalananku, ada suara yang berbisik dan berkata, " Mari, Aku punya pemantik, dan cahaya yang dihasilkannya tidak dapat padam, maukah kamu ikut denganKu?

Kamu tidak perlu membawa apa-apa, hanya setialah denganKu,
Jangan mencari pemantik-pemantik yang lain.

Pilihlah pemantik yang lain dan abaikanlah Dia, bila engkau hanya ingin melihat cahaya yang nampak hanya sebentar saja.